Darussaadah

Liputan

KH. Muhsin Abdillah

BIOGRAFI KH. MUHSIN ABDILLAH

Beliau dilahirkan di Banyu Urip, Binangun, Blitar dengan nama Muhsin (lalu setelah haji ditambahi Abdillah) dari pasangan H. Misran dan Ibu Hj. Safurah lahir pada tanggal 23 September 1951, beliau anak ke-2 dari 8 bersaudara, yaitu:

  1. Bpk. Mahsun (wafat pada usia kurang lebih 1 tahun)
  2. KH. Muhsin Abdillah
  3. Ibu Nuriyah
  4. Bpk. H. M. Irham
  5. Ibu Jannatun
  6. Bpk. Wawi
  7. Bpk. Khoiri
  8. Bpk. Masyhudi

Ayah beliau adalah orang biasa dengan ekonomi di bawah rata-rata namun tipikal yang pekerja keras. Pada usia 3 tahun KH. Mushin Abdillah diajak pindah ke Banyuwangi oleh kedua orang tua karena ekonomi di Blitar kurang sejahtera.

Di Banyuwangi Ayah beliau bekerja sebagai pencari kayu, sedang ibu beliau hanyalah seorang Ibu rumah tangga biasa yang sering diundang untuk memimpin pengajian semacam dzibaiyah di masyarakat sekitar. Pada usia 9 tahun beliau sudah ikut membantu orang tua berkeliling desa-desa sambil memikul pisang untuk dijual, mencari rumput, menggembala kerbau dan sesekali juga menjadi penjual dawet untuk menyambung hidup.

Sekitar tahun 1961 Ayah beliau merantau ke Sumatera karena mendengar ada lahan murah bekas orang transmigrasi di sana, dalam perantauan tersebut ternyata ada kecocokan dan akhirnya dua tahun kemudian Ayah beliau memboyong KH. Muhsin Abdillah dan keluarga menuju Sumatera tepatnya di Sadar Sriwijaya, Lampung Timur.

LEMBAR BARU DI LAMPUNG

Tempat baru di Lampung tidak begitu saja membawa keadaan ekonomi keluarga langsung membaik, ditempat baru tersebut beliau merasa lebih berat karena harus menyesuaikan lingkungan, membantu Ayah menggarap ladang, menjual Krenjang dan mencari rumput, karena banyaknya pekerjaan, waktu beliau untuk belajar menjadi terkikis, hingga beliau sempat dinyatakan tidak lulus dari Sekolah Rakyat (sekarang SD), pada pengumuman kelulusan sekolah beliau tidak menemukan namanya ada di sana.

Beliau pun hanya bisa pasrah dan sadar bahwa memang waktu untuk belajar telah banyak tersita untuk membantu orang tua, hal itu bahkan tertuang saat malam hari setelah pengumuman kelulusan keluar, beliau bermimpi menggembala kerbau bersama teman-temannya, dalam mimpi itu beliau melihat teman-temannya berhasil membawa gembalaannya menyebrangi sungai, sedangkan beliau tergopoh-gopoh dan tertinggal jauh, namun beliau tetap berusaha keras melewati sungai tersebut untuk mengejar temannya yang lebih dulu, dan akhirnya berhasil.

Keajaiban pun datang, keesokan harinya pihak sekolah meralat pengumuman kelulusan dan Alhamdulillah beliau menemukan namanya ada di sana, lulus bersama kawan yang lain.

RIWAYAT MENIMBA ILMU

Jika diurutkan, perjalanan beliau dalam menimba ilmu dimulai dari Sekolah Rakyat di Banyuwangi sampai kelas 4, lalu meneruskannya di Lampung.

Setamat SR beliau melanjutkan sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) selama empat tahun di Metro, kemudian melanjutkan lagi sekolah PGAA (jenjang setelah PGA) namun hanya setahun karena pada saat itu beliau mendengar ada Pondok Pesantren di daerah Way Jepara dan berkeinginan kesana. Dengan tekad kuat di usia 17 tahun beliau memilih berhenti PGAA dan melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren asuhan KH. Ahmad Shodiq yang kini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Darussalamah.

Berangkat menimba ilmu di Pesantren, beliau tidak pernah diberi pesangon oleh orang tua, beliau nyantri sambil mengabdi pada pengasuh untuk mencukupi kesehariannya, kadang berkebun, menggarap sawah atau berjualan.

Di Pesantren ini beliau banyak menimba ilmu kurang lebih selama 9 tahun, meskipun saat kecil beliau sudah belajar ilmu agama di Mushola kampungnya, di Banyuwangi beliau mengaji bersama Mbah Shodiq yang terkenal sangat keras dan disiplin, sampai beliau pun juga pernah dipukul dengan bambu saat itu. Kemudian di Lampung belajar kitab-kitab dasar kepada Mbah Arifin seperti Mabadi Fiqih, Jurumiyyah, Hidayatussibyan bahkan beliau sangat hafal.

Beliau termasuk santri awal di sana, saat itu santrinya baru sekitar 40, pengasuhnya pun masih lajang dan seringkali bersama santri-santrinya masak dan makan bersama dengan penuh kesederhanaan.

Selama di pesantren tersebut beliau dianggap cerdas oleh teman-teman bahkan oleh Kyai, sehingga dari kelas Jurumiyah beliau langsung dinaikkan ke kelas Alfiyyah melewati kelas Al-Imrithy, kemudian setelah selesai Alfiyyah langsung ditunjuk oleh Kyai untuk menjadi guru Al-Imrithy.

”seng poso, tirakat aneh-aneh iku sek kalah karo seng sregep istiqomah mempeng (yang puasa, tirakat macem-macem itu masih kalah dengan orang yang giat istiqomah belajar)”  adalah nasihat yang diingat oleh KH. Muhsin Abdillah dari Kyainya. Sehingga beliau selalu beranggapan bahwa belajar yang istiqomah adalah tirakat terbaik untuk menggapai cita-cita, selain itu beliau juga istiqomah dalam membaca Dalail al-Khoirot sebagai bentuk usaha batin sampai sekarang.

Selain menyantri di KH. Ahmad Shodiq, beliau juga pernah menyantri di Kediri Jawa Timur, yaitu di Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari dibawah asuhan KH. Faqih Asy`ari, namun ada hal unik saat mondok di Kediri, beliau hanya nyantri selama satu minggu karena oleh Kyai dianggap cukup ilmunya “sampean kundur mawon, kadose luwih anfa` ten griyo (kamu pulang saja, lebih bermanfaat di rumah)” begitulah pesan KH. Faqih Asy`ari Sumbersari kepada beliau KH. Muhsin Abdillah yang saat itu sedang menyantri baru tujuh hari.

MERAJUT RUMAH TANGGA

                Setelah tiga tahun menjadi Guru di Pondok Pesantren Darussalamah, Way Jepara. Atas pilihan Kyai dan persetujuan orang tua, dalam usia 24 tahun beliau dinikahkan pada tahun 1973 oleh KH. Ahmad Shodiq dengan dara ayu yang menjadi abdi ndalem andalan asal Braja Yekti, Braja Slebah, Lampung Timur yang saat itu berusia 15 tahun bernama Subhianah putri dari pasangan H. Abdurrohman & Hj. Rusifah, dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai putra-putri:

  1. Titin Saadah
  2. Mariatus Saadah
  3. Luqoni Arifin
  4. Malikhatus Saadah
  5. Hisyamuddin
  6. Mahfudz Zuhri
  7. Zuhud Maali
  8. Ali Wafa
  9. Muhdlor Munib
  10. Alfaizin

Lalu pada tahun 2000 beliau menikah lagi dengan Siti Siami asal Karangendah, Terbanggi Besar dan dikaruniai putra-putri:

  1. Kholidz Nidzom
  2. Alwa Khasina

CIKAL BAKAL PESANTREN DARUSSAADAH

Kurang lebih setahun setelah menikah, beliau bersama istri dan mertua pindah ke Bojong, Lampung Timur tepatnya di desa Tanjung Harapan, di tempat baru ini masyarakat sekitar mulai mengenal kematangan ilmu beliau dan mempercayakan anaknya untuk mengaji bersama beliau, tak selang lama para santri dari luar daerah mulai silih berganti berdatangan.

Akhirnya di Bojong tersebut beliau membangun asrama-asrama, Masjid, Musholla dan meresmikannya sebagai Pondok Pesantren bernama Darunnajah, pondok ini sekarang masih ada dan diteruskan oleh K. Rohman Khozin dan penerusnya, saat mengelola pondok itu KH. Muhsin Abdillah mengalami banyak cobaan, kesejahteraan disana sangatlah sulit, untuk menghidupi keluarga dan merawat pondok beliau bekerja sebagai pematik batu, pembuat arang, jualan jagung dan lain sebagainya.

Saat di Darunnajah meskipun santri sudah mulai banyak kurang lebih 50-an, beliau tidak bisa merasakan ketenangan karena tanah sekitar dilakukan reboisasi oleh pemerintah sehingga akses menuju pondok menjadi tertutup, selain itu tanah lokasi pondok dijadikan rebutan oleh beberapa orang meskipun beliau juga sejak awal secara sah membeli lahan itu, namun beliau dengan kerendahan hati melepaskan tanah tersebut dan memilih pindah.

Sudah ikhtiar beberapa tempat untuk pindah namun belum ada yang jodoh, hingga suatu ketika beliau KH. Muhsin Abdillah mendapat undangan untuk mengisi pengajian di Desa Mojoagung (barat pondok Darussaadah), kemudian sepulang dari mengisi pengajian di perjalanan beliau melihat ada semacam ekor layangan bersinar bagus dari langit turun tepat di lokasi pondok Darussaadah saat ini. Setelah diistikhorohi dan ditinjau langsung ternyata itu adalah petunjuk dari Allah sebagai tempat baru untuk melanjutkan perjuangan.

Akhirnya bersama mertua, keluarga dan 41 santri-santrinya beliau pindah ke tempat baru tersebut, pada saat itu santri-santri menumpang di tempat Bpk. Mukhayat dan Bpk. Syamsi barat pondok kurang lebih 2 km. Sembari beliau mulai mendirikan rumah di lokasi saat ini. Atas jerih payah dan pertolongan Allah akhirnya pada tahun 1986 berdirilah pondok Pesantren Darussaadah yang kita kenal saat ini sebagai ganti Pesantren Darunnajah di Bojong.

Tidak ada proses yang begitu instan dalam berjuang menegakkan agama Allah, banyak sekali rintangan yang harus dilewati, namun sebagai manusia kita harus tetap berusaha lahir batin dan tawakkal kepada Allah. Seorang ulama berkata jika kita ingin menjadi seperti orang alim yang sukses jangan melihat keadaan suksesnya, tapi lihatlah dulu kala proses awal jatuh bangunnya.

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Lihat Juga
Close
Back to top button